Usianya masih 18 tahun,
namun Hartadinata Harianto sudah menginjak Semester 5 di Stony Brook
University, New York, Amerika Serikat (AS) di saat teman sebayanya masih
menyelesaikan SMA. Harta memang mengalami akselerasi jenjang pendidikan karena
kemampuannya yang di atas rata-rata. Apa sih rahasianya?
Harta sudah bersekolah
di AS sejak kelas 3 SD karena mengikuti keluarganya yang berasal dari Surabaya
pindah ke AS. Dia sudah mendapatkan beasiswa sejak SMA. SMA di AS yang
normalnya 4 tahun, ditempuh hanya dalam 2 tahun saja di Bard High School Early
College, sekolah khusus percepatan dan favorit di New York.
Perjuangan Hartadinata
mengenyam predikat sebagai siswa Bard High School Early College di New York,
tentulah tidak mudah. Penerimaan didasarkan pada nilai, ujian esay, dan
matematika.
Tak cuma itu, Harta
mendapatkan beasiswa penuh dari Yayasan Bill & Melinda Gates selama
bersekolah SMA Bard College. Padahal, tak mudah menjadi siswa di sana. Harta
harus bersaing dengan 6 ribu - 8 ribu calon siswa cerdas lainnya yang disaring
hanya menjadi 150 siswa.
Setelah sekolah selama
2 tahun, dia mendapat gelar Associate Degree (di Indonesia setara D3/sarjana
muda, red) dari Bard High School. Lantas dia memilih masuk Stoony Brook
University, dengan program studi ganda, ekonomi dan kedokteran. Dalam kedua
program studi itu, Harta langsung menginjak Semester 5.
Hartadinata yang sempat
mengenyam bangku SD di SD Ciputra Surabaya itu, punya segudang prestasi
akademik dan nonakademik.
Pada tahun 2006,
Hartadinata meraih prestasi Math Academic Excellence. Tahun 2007 menerima
penghargaan Academic Gold Honor Roll, yang diterimanya kembali pada tahun
berikutnya.
Di bidang matematika,
Hartadinata kembali meraih prestasi academic excellence for mathematics tahun
2008. Di tahun ini juga dia masuk dalam jajaran dua persen yang paling top
secara nasional untuk tes English Language Arts (ELA Examinations).
Dia juga menerima
President's Education Award's Program (Geoge W Bush). Indeks prestasi kumulatif
(IPK) Hartadinata mencapai 4,0.
Pencapaian prestasi
yang gemilang dari putra bangsa ini membuat Duta Besar di Indonesia di
Washington DC tak ketinggalan memberikan penghargaan. Hartadinta memperoleh
penghargaan Ambassador Awards for Excellence dari Duta Besar Indonesia di
Washington Dinno Patti Djalal pada Desember 2011.
Nilainya, sejauh ini,
Harta mengaku selalu mendapatkan nilai A dalam mata pelajaran di kedua program
studi itu. Tak heran dia mendapat beasiswa penuh dari akomodasi hingga tempat
tinggal.
Bagaimana mengatur
waktu belajarnya? "Memang sih, memang sibuk. Kacau sedikit menurut saya.
Saya bangun pagi tidurnya agak malam. Tidur jam 12 bangun jam 6. Setelah
bangun, saya lari, fitness, makan cepat, mandi cepat. Saya jarang buang-buang
waktu seperti tidur-tiduran. Di kelas saya membaca, dan melakukan semua hal
produktif," jelasnya membagi sedikit kiat.
Ya, pandai membagi-bagi
waktu menjadi salah satu kuncinya. Namun kegiatan akademik yang padat itu tak
membuatnya kurang pergaulan alias kuper. Harta juga bersosialisasi dengan teman
dan mengikuti kegiatan ekstrakurikuler.
"Kalau week end
saya jalan dengan teman-teman, saya sering main rugby, wrestling (gulat), ke
fitness. Saya juga menjadi council di student government (semacam BEM, red).
Saya juga joint organisasi bisnis," papar putra pasangan Candra Harianto
dan Judith Harianto.
Ke depannya,
Hartadinata ingin meneruskan S2 di bidang ekonomi. Kemudian, dia berniat untuk
kembali ke Indonesia, untuk membangun rumah sakit.
"Saya ingin
membuat 2 rumah sakit. Rumah sakit A, internasional dan profit, dikunjungi bagi
mereka yang mampu. Nah profit dari RS A itu sebagiannya dialokasikan ke RS B
bagi pasien menengah ke bawah yang kurang mampu. Subsidikan dana-dana yang
didapat dari rumah sakit A, sehingga orang-orang yang tidak mampu dibantu
juga," kata penyuka nasi goreng dan nasi otak padang ini.
Dengan prestasinya ini,
Harta juga menularkan semangatnya kepada remaja-remaja Indonesia dengan menjadi
motivator. Dia sudah berkeliling ke beberapa SMA di Jakarta, Bandung, Bogor,
Solo, Yogyakarta untuk menunjukkan bahwa remaja Indonesia tak kalah dengan
rekan-rekannya di dunia. Bisa berprestasi di tingkat internasional.
"Remaja-remaja
kita sangat pintar dan sangat-sangat mampu dalam kepintaran dan keinginan.
Hanya sisi kejuangannnya mereka yang perlu ditambahkan. Butuh dorongan dari
guru-guru dan orang tua buat mereka berjuang. Saya ingin datang ke
sekolah-sekolah mencoba membantu memberi motivasi," ujar peraih rekor MURI
sebagai motivator pendidikan termuda di Indonesia ini.
Masalah-masalah yang
kerap dijumpai di SMP-SMA di Indonesia, seperti tawuran dan bullying juga tak
luput dari pengamatannya. Menurutnya, peran lingkungan sangat penting untuk mencegah
dan mengatasi hal itu.
"Di sini masih
kurang rukun, banyak di antara lingkungan berbeda, perbedaan itu dibikin
masalah. Di sana (AS) perbedaan dihargai, ada organisasi yang memang isinya
orang asia, bule dan mereka bersatu saling membantu," tutur Harta ketika
ditanya solusi mengatasi tawuran.
Mengenai bullying, di
AS juga ada. Namun Harta mencontohkan untuk mencegah bullying senior pada
junior, ada program di mana seniornya membantu para juniornya. "Harus ada
sistem yang membuat orang senior mengerti powernya bukan untuk mem-bully
junior, tapi juga untuk membantu," jelas dia.
Nah, Harta bersedia
membagi rahasianya agar sukses di bidang akademis dan non-akademis seperti yang
dialaminya.
"Rahasianya,
diaplikasikan kerja keras. Saya dapat beasiswa bukan karena kepintaran, tapi
kepintaran dan perjuangan yang sangat keras. Mau jadi insinyur, profesor,
businessman atau apa pun, harus kerja keras," pesan Harta.
3 kunci sukses versi
Harta :
1. Motivation
(Motivasi)
2. Confidance (Percaya
Diri)
3. Determinatian
(Kegigihan).
dari ketiga hal diatas
menghasilkan Succesfull Habbit yaitu kebiasaan-kebiasaan kecil sehari-hari yang
mengarah kepada kesuksesan seperti yang sudah dipaparkan dan dicontohkan oleh
Harta diatas.
Remaja Indonesia,
berniat mengikuti jejak Harta?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar