Malam itu aku duduk sendiri di kursi kayu sebuah kafe
dengan pikiran selengang kota tak berpenguni yang ditemani secangkir kopi
yang sudah nihil setengah jam lalu. Di hadapanku ada sepasang kekasih yang
saling bergelayut manja dan mengikat pandangan mata, kemudian si
perempuan merajuk entah karena apa. Pemandangan yang picisan, menurutku.
Rasanya aku ingin meminta maaf kepada mereka karena
kornea mataku usil menerjemahkan pemandangan lain. Tentang sebuah adegan
di mana si pria sedang ditagih janji-janji manis yang diketahui
gadisnya ingkar. Namun tak dapat kutampik bahwa aku ikutan iseng
membayangkan diriku bersama seorang gadis yang entah sesiapa menggantikan
kehadiran mereka di dimensi lain pada dunia ini.
Barangkali detik sedang memijit keningnya yang pusing
dililit oleh arah jarum jam saat aku menulis ini, sebab kupikir semesta sedang
tidak mempunyai skenario apa-apa untukku mengingat Tuhan juga pasti sibuk
memilah mana lagi doa yang sudah saatnya dikabulkan.
Aku sedang merasakan kondisi di mana kosong yang
begitu melompong. Semuanya terasa lebih sunyi dari dini hari. Tak kurasakan
getar apa-apa di jantungku yang laksana jaring laba-laba. Ya, jantungku
seperti laba-laba yang menanti mangsa terperangkap di jaringnya lalu menerkam
tepat di permukaan hati agar ada sesuatu yang dapat kunikmati.
Dapat kupastikan kau tau sesuatu itu adalah
rangkaian lima huruf yang kumaksudkan tanpa perlu kujejerkan menjadi satu
kata jawaban. Jika kau masih belum tau juga, coba saja kau pejamkan mata
dan buat pikiranmu menginterpretasikan momen ketika jantungmu
berdebar kala menatap seseorang yang selalu berhasil membuat dadamu menghangat
tiap kali jumpa.
Sebelumnya, tujuan aku menulis ini adalah untuk kali
pertamanya aku merasa gelisah. Gelisah yang kurasakan ini seperti mengasingkanku
pada diriku sendiri yang enggan jatuh pada seseorang. Membuatku tak ingat
perihal indahnya usaha merangkai senyum. Menuntunku lupa bagaimana bekas hangat
dari sebuah pelukan. Dan, menggiringku menjauhi angan perihal deru napas tak
karuan saat rasa menyenangkan yang tak dapat dideskripsikan
tercipta oleh pagutan sepasang bibir.
Kiranya tulisan ini adalah omong kosong,
mungkin ini adalah keluhan sel-sel di dalam tubuhku yang merindukan
sentuhan dopamin. Supaya jiwaku yang perlahan lapuk berjingkrak dalam
letup kembang api kebahagiaan. Menafsirkan delusi menjadi nyata. Dan
membayangkan panjangnya hening malam diisi dua mulut yang tertawa dan sepasang
lengan yang saling merangkul, hingga pagi tiba menyapa dengan sopan lalu
mengucap permisi untuk mempersilakan mentari menggantikan terang lampu.
Tak ayal kuakui, keterasingan ini membuat sepi yang
bising karena anak-anak rindu di dadaku sedang berkelana mencari tujuan entah
di mana. Hujan pun seolah tak bermakna, karena tidak ada kenang yang
mengintruksikan memoriku mengingat sebuah nama. Semuanya menjadi hampa.
Entah sampai kapan keterasingan ini kurasa, andai
kata akhirnya hari itu tiba, kala Tuhan memerintahkan semesta
menyiasati pertemuan yang entah disengaja atau tidak –aku tidak peduli, aku tidak sabar menanti terkabulnya
dua kemungkinan dari dadu yang kulempar pada perjudian doa dan
pengharapan untuk mengakhiri keterasingan ini.
Jatuh cinta atau patah hati pada seseorang, atau
keduanya.
Kuserahkan seluruhnya pada waktu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar