Pernahkah kita berfikir betaba besar dan banyaknya
pengorbanan kedua orang tua kita dan pernahkah kita berpikir juga untuk
membalas semua itu,? Rata-rata dari kita pasti tidak pernah
memikirkan itu semua, walaupun kedua orang tua kita tidak pernah
mengharapkan balasan dari kita.
1. Ayah
Ayah, seorang yang selalu bekerja membanting tulang. Itu semua
dilakukan hanya untuk memenuhi kebutuhan kita. Sampai-sampai beliau pun
tidak pernah memikirkan kesehatannya. karena yang beliau fikirkan
hanyalah bagaimana caranya bisa memenuhi kebutuhan keluarganya. Hanya
itu yang ada dalam fikirannnya.,
Sekarang Pertanyannya Adalah :
"APAKAH KALIAN PERNAH MEMIKIRKAN PERASAAN ORANG TUA KITA DISAAT MEREKA TIDAK BISA MEMENUHI KEBUTUHAN KITA,?"
Asalkan kalian tahu, MIRIS rasanya. Dan itu pun masih ditambah dengan
kalian ngambek karena keinginannya tidak dikabulkan.
BAYANGKAN .. BAYANGKAN
!!
Coba fikirkan itu .. Renungkan,,,,!!
Tapi Ayah masih tetap berusaha untuk memenuhi permintaan kita tadi, sampai sampai mungkin saja beliau meminjam uang kepada tetangga, keluarga dll. Begitulah besarnya pengorbanan seorang Ayah.
Akankah
kalian sekarang sudah berfikir sejauh itu,?
Dan lihatlah wajah
Ayah kalian masing masing ketika beliau tidur, itulah WAJAH WAJAH
LELAH, CAPEK karena seharian telah kerja membating tulang.
Dan
untuk yang laki laki, bayangkan apabila kalian dalam posisi seperti
tadi, apa yang akan kalian lakukan dan bagaimana perasaan kalian,?
Ayah adalah sesosok laki-laki yang patut untuk dikagumi sifat, sikap serta perbuatannya. Ayah memiliki tanggungjawab besar untuk keluarga dan
kasih sayangnya tidak perlu diragukan karena setara dan mungkin lebih
besar. Seperti kata orang, ibu memiliki kasih sayang yang besar pada
anak karena ibu yang melahirkan dan mengasuh anak. Tapi, kasih sayang
ayah -mungkin- jauh lebih besar. Fitrah ayah yang tak mampu seperti ibu
yang dapat melahirkan, sehingga membuat kasih sayang ayah akan lebih
besar dan dalam. Karena adakalanya ayah iri melihat anak-anak lebih
dekat dengan ibunya. Oleh karena itu, semaksimal mungkin ayah akan
memenuhi permintaan dan kebutuhan keluarga terutama untuk anak-anaknya.
Kebahagiaan anggota keluarga dalah kebahagiaan dirinya. Itulah gambaran
seorang ayah.
Sifat ayah pada dasarnya adalah mengayomi,
bertanggungjawab dan berusaha membuat anggota keluarga senang dan
bahagia. Pendidikan, pengetahuan dan pendapatan yang rendah tidak akan
menghalangi munculnya sifat alami tersebut pada sosok ayah. Mungkin ayah
pernah marah atau memukul anak-anaknya, tapi percayalah bahwa hal
tersebut merupakan bentuk kasih sayangnya. Ayah berharap anak-anaknya
menjadi seorang manusia yang tidak rapuh, tidak nakal/menyalahi aturan,
kuat, bertanggungjawab, dan menjadi manusia yang mandiri dalam menjalani
proses kehidupan yang panjang dan berliku. Proses tersebut membutuhkan
banyak bekal diantaranya sifat-sifat yang diajarkan ayah sewaktu kecil
dengan memarahi, memukul, atau memberi kasih sayang. Untuk menjalani
kehidupan tidak akan semudah dalam bayangan seperti dalam dongeng/cerita
peri, bim salabim langsung jadi. Semua pekerjaan dan pilihan hidup
membutuhkan keyakinan dan usaha. Hal tersebutlah yang selalu diajarkan
ayah pada anak-anaknya. Ayah memiliki tanggungjawab yang besar dalam
mendidik anak. Namun, selain itu beliau juga memiliki tanggungjawab
untuk memberi nafkah pada keluarga. Seberapa capek dan keringat
bercucuran beliau tetap bekerja. Walaupun tulang mulai merapuh, kulit
mengeriput, nafas tidak lagi kuat beliau tetap berjalan tegak mencari
nafkah untuk keluarga.
2. Ibu
Saat kau berumur 1 tahun, dia menyuapi dan memandikanmu. Sebagai balasannya, kau menangis sepanjang malam.
Saat kau berumur 2 tahun, dia mengajarimu bagaimana cara berjalan. Sebagai balasannya, kau kabur saat dia memanggilmu.
Saat kau berumur 3 tahun, dia memasakkan semua makananmu dengan kasih
sayang. Sebagai balasannya, kau buang piring berisi makanan ke lantai.
Saat kau berumur 4 tahun, dia memberimu pensil berwarna. Sebagai balasannya, kau coret-coret dinding rumah dan meja makan.
Saat kau berumur 5 tahun, dia membelikanmu pakaian-pakaian yang mahal
dan indah. Sebagai balasannya, kau memakainya untuk bermain di kubangan
lumpur dekat rumah.
Saat kau berumur 6 tahun, dia mengantarmu pergi ke sekolah. Sebagai balasannya, kau berteriak.”NGGAK MAU”.
Saat kau berumur 7 tahun, dia membelikanmu bola. Sebagai balasannya, kau lemparkan bola ke jendela tetangga.
Saat kau berumur 8 tahun, dia memberimu es krim. Sebagai balasannya, kau tumpahkan hingga mengotori seluruh bajumu.
Saat kau berumur 9 tahun, dia membayar mahal untuk kursus bahasamu.
Sebagai balasannya, kau sering bolos dan sama sekali tidak pernah
berlatih.
Saat kau berumur 10 tahun, dia mengantarmu ke mana
saja, dari kolam renang hingga pesta ulang tahun. Sebagai balasannya,
kau melompat keluar mobil tanpa memberi salam.
Saat kau berumur
11 tahun, dia mengantar kau dan teman-temanmu ke bioskop. Sebagai
balasannya, kau minta dia duduk di baris lain.
Saat kau berumur
12 tahun, dia melarangmu untuk melihat acara TV khusus orang dewasa.
Sebagai balasannya, kau tunggu sampai dia di keluar rumah.
Saat
kau berumur 13 tahun, dia menyarankanmu untuk memotong rambut, karena
sudah waktunya. Sebagai balasannya, kau katakan dia tidak tahu mode.
Saat kau berumur 14 tahun, dia membayar biaya untuk kempingmu selama
sebulan liburan. Sebagai balasannya, kau tak pernah meneleponnya.
Saat kau berumur 15 tahun, dia pulang kerja ingin memelukmu. Sebagai balasannya, kau kunci pintu kamarmu.
Saat kau berumur 16 tahun, dia ajari kau mengemudi mobilnya. Sebagai
balasannya, kau pakai mobilnya setiap ada kesempatan tanpa peduli
kepentingannya.
Saat kau berumur 17 tahun, dia sedang menunggu telepon yang penting. Sebagai balasannya, kau pakai telepon nonstop semalaman.
Saat kau berumur 18 tahun, dia menangis terharu ketika kau lulus SMA.
Sebagai balasannya, kau berpesta dengan temanmu hingga pagi.
Saat
kau berumur 19 tahun, dia membayar biaya kuliahmu dan mengantarmu ke
kampus pada hari pertama. Sebagai balasannya, kau minta diturunkan jauh
dari pintu gerbang agar kau tidak malu di depan teman-temanmu.
Saat kau berumur 20 tahun, dia bertanya, “Dari mana saja seharian ini?”
Sebagai balasannya, kau jawab,”Ah Ibu cerewet amat sih, ingin tahu
urusan orang!”
Saat kau berumur 21 tahun, dia menyarankan satu
pekerjaan yang bagus untuk karirmu di masa depan. Sebagai balasannya,
kau katakan,”Aku tidak ingin seperti Ibu.”
Saat kau berumur 22
tahun, dia memelukmu dengan haru saat kau lulus perguruan tinggi.
Sebagai balasannya, kau tanya dia kapan kau bisa ke Bali.
Saat
kau berumur 23 tahun, dia membelikanmu 1 set furniture untuk rumah
barumu. Sebagai balasannya, kau ceritakan pada temanmu betapa jeleknya
furniture itu.
Saat kau berumur 24 tahun, dia bertemu dengan
tunanganmu dan bertanya tentang rencananya di masa depan. Sebagai
balasannya, kau mengeluh,”Aduuh, bagaimana Ibu ini, kok bertanya seperti
itu?”
Saat kau berumur 25 tahun, dia mambantumu membiayai
penikahanmu. Sebagai balasannya, kau pindah ke kota lain yang jaraknya
lebih dari 500 km.
Saat kau berumurualaikum 30 tahun, dia
memberikan beberapa nasehat bagaimana merawat bayimu. Sebagai
balasannya, kau katakan padanya,”Bu, sekarang jamannya sudah berbeda!”
Saat kau berumur 40 tahun, dia menelepon untuk memberitahukan pesta
ulang tahun salah seorang kerabat. Sebagai balasannya, kau jawab,”Bu,
saya sibuk sekali, nggak ada waktu.”
Saat kau berumur 50 tahun,
dia sakit-sakitan sehingga memerlukan perawatanmu. Sebagai balasannya,
kau baca tentang pengaruh negatif orang tua yang menumpang tinggal di
rumah anak-anaknya.
Dan hingga suatu hari, dia meninggal dengan
tenang. Dan tiba-tiba kau teringat semua yang belum pernah kau lakukan,
karena mereka datang menghantam HATI mu bagaikan palu godam.
Maka
sadarilah betapa besar usaha-usaha dan pengorbanan kedua orang tua kita dan
jangan sekali-kali berani menentang bahkan mendurhakai ayah maupun ibu.
Untuk Semua Pembaca, Salam Hangat & Jabat Erat selalu
Untuk Semua Pembaca, Salam Hangat & Jabat Erat selalu

Tidak ada komentar:
Posting Komentar