“…whatever is true, whatever is noble, whatever is right, whatever
is pure, whatever is lovely, whatever is admirable - if anything is
excellent or praiseworthy - think about such things” (Apostle Paul to
Philippians)
Apa yang kita pikirkan menentukan apa
yang akan kita lakukan. Pola pikir kita ini akan mempengaruhi karakter,
kebiasan (habits), perilaku dan sikap kita. Pola pikir ini sangat
dipengaruhi oleh sistim kepercayaan atau sistim nilai yang kita miliki,
nilai-nilai keluarga, pendidikan, dan lingkungan. Karena itu kita harus
memastikan agar pola pikir kita hanya dibentuk dan dipengaruhi dengan
nilai-nilai yang baik dan benar.
Sebuah transformasi (perubahan) pola
pikir harus terjadi, jika kita ingin mengembangkan hidup yang
berkualitas. Perubahan ini dimaksudkan supaya semua potensi, bakat, dan
talenta kita bisa dikembangkan secara optimal, dan menghasilkan sebuah
keluaran (output) dengan kualitas terbaik.
Mind Set (Pola Pikir) adalah inti dari
Self Learning atau pembelajaran diri. Inilah yang menentukan bagaimana
kita memandang sebuah potensi, kecerdasan, tantangan dan peluang sebagai
sebuah proses yang harus diupayakan dengan ketekunan, kerja keras,
komitmen untuk tercapainya kebehasilan visi dan tujuan hidup kita.
Proses pembelajaran diri selalu dimulai
dari perumusan visi dan misi hidup. Inilah yang akan memandu arah dan
jalan keberhasilan kita. Inilah yang akan mengarahkan kemana tujuan kita
dan menjadi seperti apakah kita nanti. Namun itu tidak cukup. Perlu
sebuah mind set yang berkembang (growth mindset) yang akan menjadi
katalisator dalam merespon setiap peluang, tantangan, dan perubahan dan
mengubahnya menjadi sebuah proses yang dijalankan dengan ketelatenan,
usaha, dan komitmen yang kontinyu dan berkelanjutan, untuk menjadi
berhasil, berkembang, dan berkualitas.
Seseorang dengan mindset berkembang akan selalu memandang bahwa bakat, kecerdasan, dan kualitas adalah sesuatu yang bukan given
(sudah ditetapkan), tetapi bisa diperoleh melalui upaya-upaya
tertentu. Karena itu hidup dalam pemanfaatan peluang dan tantangan untuk
berkembang adalah jiwa dari orang dengan mindset berkembang ini.
Keberhasilan dimaknai sebagai “berusaha lebih baik”, dan kegagalan
dimaknai sebagai “kurangnya ketrampilan dan pengalaman”. Karena itu
kegagalan perlu diresponi dengan sebuah upaya untuk bekerja lebih keras,
lebih tekun, lebih bermotivasi.
Sebuah survey Gallup tentang “Karakter
Orang-orang Sukses di Amerika” menjelaskan bahwa hampir semua orang yang
berhasil, berkualitas dan berkembang kehidupannya, adalah mereka-mereka
yang memiliki mindset berkembang, seperti: kerja keras, tujuan yang
jelas, hasrat belajar yang tinggi, tidak pernah berhenti belajar pada
satu bidang tetapi selalu mencoba bidang lain, menghargai kemampuan
pengembangan logika, terus berusaha untuk berubah dan berkembang dan
sebagainya. Hidup yang berkualitas dan berkembang bisa dicapai karena
mindset yang benar sudah mendarahdaging dan menjelma dalam karakter,
kebiasaan, sikap dan perilaku orang-orang sukses.
Tujuh Hukum Seorang Pembelajar (7 Laws of Learner)
Seorang pembelajar yang baik selalu mengikuti hukum-hukum yang
menjadikannya pribadi yang pantang menyerah, selalu terbuka kepada
perubahan, dan bersedia untuk berubah. Inilah Tujuh Hukum Seorang
Pembelajar :
1. Kesuksesan itu menyangkut pembelajaran, pengembangan diri, dan proses menjadi lebih cerdas.
Tidak pernah ada kesuksesan tanpa
pembelajaran. Tidak pernah ada pembelajaran jika tidak ada tujuan yang
ingin dicapai. Belajar untuk menerima perubahan, tantangan, dan peluang.
Belajar untuk selalu ingin tahu untuk peningkatan pengetahuan. Belajar
untuk bersedia berubah dan berkembang.
2. Kecerdasan berkaitan dengan proses mempelajari sesuatu seturut dengan waktu; menghadapi tantangan dan menciptakan kemajuan.
Kecerdasan selalu bisa ditingkatkan
melalui upaya yang tekun dan sungguh-sungguh. Itu bukan sesuatu yang
ditetapkan. Walaupun beberapa orang memang dianugerahi dengan kecerdasan
yang luar biasa, namun kecerdasan sejati adalah kecerdasan yang
diperoleh dengan proses belajar, bersedia menghadapi tantangan, dan
berhasil menciptakan kemajuan dalam setiap tahapan prosesnya.
3.
Kegagalan sama sekali tidak menentukan nasib. Itu adalah persoalan yang
harus dihadapi. dipelajari, dipecahkan, dan diambil hikmahnya.
Kegagalan bukanlah segala-galanya. Itu
tidak menentukan masa depan kita. Dalam diri seseorang dengan mindset
berkembang, kegagalan adalah sebuah persoalan yang perlu ditangani dan
dipecahkan dengan usaha dan upaya yang lebih memadai dibanding
sebelumnya. Kegagalan menjadi motivasi bagi orang dengan mindset
berkembang untuk bekerja lebih baik, dengan fokus memperbaiki kelemahan
dan kekurangan.
4. Upaya adalah sesuatu untuk menyalakan kemampuan dan mengubahnya menjadi pencapaian. Kemampuan dapat ditingkatkan.
Upaya itu diibaratkan sebagai pemantik
api yang akan menggelorakan kapabilitas, kompetensi dan kemampuan orang
apabila dilakukan dengan tekad dan komitmen yang kuat. Karena itu
haruslah dipastikan supaya motivasi, tekad, dan komitmen tidak pernah
padam dalam proses mentransformasi kemampuan menjadi pencapaian.
5. Keingintahuan (belajar) terus menerus tanpa akhir, serta pencarian akan tantangan.
Jiwa seorang pembelajar adalah hasrat
yang tidak pernah berhenti untuk belajar dalam segala hal. Tidak ada
waktu sedikitpun untuk berhenti dari hasrat itu. Mengembangkan rasa
ingin tahu dengan mencari tantangan baru. Tidak pernah puas dengan
kondisi sekarang, tetapi selalu mencari jalan untuk perbaikan dan
pengembangan. Ketika hasrat itu padam, mati jugalah jiwa sang pembelajar
6. Bertanggung jawab terhadap proses-proses yang membawanya kepada keberhasilan dan mempertahankannya.
Setiap proses yang membentuk karakter dan
kebiasan sukses harus dipertanggungjawabkan dengan mempertahankan
proses tersebut, ketika tantangan menjadi lebih berat dan
sulit. Walaupun mungkin proses tersebut harus diupayakan lebih keras,
lebih tekun, lebih bersemangat dibandingkan sebelumnya. Tetapi inilah
arti pertumbuhan. Tidak akan pernah menghadapi situasi dan tantangan
yang sama. Namun proaktif mencari situasi dan tantangan yang jauh lebih
berat dan sulit dibandingkan sebelumnya. Seorang pembelajar haruslah
memastikan untuk terus mempertahankan, bahkan meningkatkan kualitas
karakter yang membawanya kepada keberhasilan sebelumnya. Inilah
mentalitas sang juara.
7. Bersedia menerima umpan balik dan kritik untuk peningkatan kualitas dan kemajuan.
Umpan balik bisa menjadi obat maupun
racun. Tergantung sikap dan mindset orang. Seorang pembelajar yang sadar
akan proses, selalu mencari umpan balik untuk perbaikan yang
dibutuhkan. Tidak pernah alergi dengan kritik yang bertubi-tubi,
betapapun tajamnya kritik tersebut. Bagi seorang pembelajar banyaknya
kritik tidak menentukan masa depannya, walaupun mungkin kritikannya
memang benar. Jika kegagalan yang dihadapinya dan banyak kritik yang
diperolehnya, seorang pembelajar dengan mindset berkembang akan terlecut
hatinya untuk meningkatkan upayanya karena pola pikirnya yang
menempatkan kegagalan sebagai kurangnya ketrampilan dan pengalaman.
Kritik adalah obat yang menyehatkannya
Memulai Menjadi Seorang Pembelajar
Jika ingin menimba keberhasilan dan
menjadi pribadi yang berkualitas, tidak ada jalan lain bahwa kita harus
mengalami transformasi mindset kita. Tidak mudah mengubah mind set lama
dengan mind set baru, karena perubahannya yang bersifat radikal.
Mengubah mindset berarti membongkar kebiasaan dan sikap kita yang lama
dan membentuk sebuah karakter baru seorang pembelajar. Visi dan tujuan
hidup akan menjadi katalisator perubahan tersebut.
Perubahan mindset ini harus diikuti
dengan sebuah identifikasi: peluang dan tantangan apa saja yang kita
hadapi dan bisa kita gunakan untuk berkembang. Peluang itu bisa untuk
diri sendiri, profesi, maupun untuk orang-orang di sekitar kita.
Dan ketika identifikasi itu sudah
dilakukan, kita perlu menyusunnya dalam sebuah rencana aksi yang jelas
dan terukur. Tentu dibutuhkan komitmen dan tekad yang kuat supaya
rencana itu berjalan dengan baik. Jika kita menemui rintangan
atau kemunduran, maka kita perlu menyusun ulang rencana
berdasarkan umpan balik dan kritik yang kita terima.
Ketika keberhasilan sudah mulai bisa
dicapai, kita perlu memikirkan bagaimana cara mempertahankan
keberhasilan tersebut, bahkan melanjutkan dan meningkatkannya. Tentu ini
adalah sebuah proses berulang (circle process) dalam pembentukan
karakter, kebiasan, dan perilaku kita menjadi pribadi yang utuh,
berkualitas dan berkembang. Jadilah seorang pembelajar yang baik.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar