“Ranah Kognitif, Afektif, dan Psikomotor”
Diajukan untuk memenuhi salah satu
tugas mata kuliah
“Evaluasi Pendidikan”
Dosen Pengampu :
Arista Marhance, S. Pd, M. Pd
Disusun Oleh :
Muhammad Saifur Rohman
11. 441. 0041
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
UNIVERSITAS
PANCA MARGA
PROBOLINGGO
2014
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan
kehadirat Allah SWT, karena atas rahmad, hidayah dan ridho-Nya penulisdapat menyelesaikan salah
satu tugas Mata Kuliah yaitu membuat Makalah Dengan judul “Ranah
Kognitif, Afektif, dan Psikomotor”
Dalam penulisan Makalah ini penulis
banyak menemukan hambatan, tetapi penulis dapat menyelesaikannya tepat waktu
karena penulis mendapat bantuan dan kerja sama dari berbagai pihak dan sumber.
Atas bantuan dan kerja samanya penulis ucapkan terima kasih.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan Makalah ini masih jauh dari kata
sempurna. Oleh karena itu, penulis mohon saran dan kritiknya yang bersifat
membangun untuk menyempurnakan Makalah ini dengan harapan untuk memperbaiki
kualitas Makalah.
Mudah-mudahan Makalah ini dapat berguna
khususnya bagi penulis dan umumnya bagi kita semua yang membacanya.
Probolinggo, 05 Januari 2014
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Dalam kehidupan manusia
yang semakin lama semakin menuntut perlunya pendidikan bagi setiap manusia,
tentu harus dilaksanakan secara merata dan efektif. Oleh karena itu pendidikan
merupakan hal yang tidak bisa terpisahkan dalam setiap kehidupan manusia.
Perkembangan dalam dunia
pendidikan sangat pesat dan cepat, oleh karena itu dibutuhkan sebuah keahlian
dan kemauan yang baik untuk menjalankan pendidikan. Akan tetapi untuk
menjalankan semua itu tentu ada komponen-komponen di dalamnya. Seperti halnya
guru sebagai fasiilisator dan kurikulum sebagai panduan dalam menjalankan
pendidikan tersebut.
1.2 Rumusan
Masalah
1.2.1
Bagaimana
permasalahan pada ranah kognitif?
1.2.2
Bagaimana
permasalahan pada ranah afektif?
1.2.3
Bagaimana
permasalahan pada ranah psikomotor?
1.2.4
Cara pengevaluasian
terhadap ketiga aspek tersebut?
1.3 Tujuan
Untuk mengetahui tingkat
keberhasilan dalam lembaga pendidikan yaitu Madrasah Ibtidaiya Hidayatul Islam
Clarak Leces probolinggo
1.4 Manfaat
Penelitian
Dengan terselesainya penelitian
dan penyusuanan makalah ini dihgarapkan dapat diperoleh beberapa manfaat
diantaranya yaitu :
1.4.1
Manfaat bagi
penulis
a. Menambah wawasan dan pengetahuan terhadap
perkembangan ketiga ranah tersebut. b. Memotivasi penulis agar lebih peka terhadap pengetahuan pendidikan.
1.4.2
Manfaat bagi
sekolah
a. Menumbuh kembangkan kreatifitas dalam penulisan
makalah b. Mengetahui ketiga ranah tersebut.
1.4.3
Manfaat bagi
pembaca
a. Mengetahui tentang ketiga ranah tersebut
b. Mengetahui tentang cara mengevaluasi ketiga ranah
tersebut
1.5 Ruang Lingkup
Dalam makalah ini yang
membahas tentang keberhasilan lembaga madrasah Ibtidaiyah Hidayatul Islam
Clarak Leces probolinggo dalam ketiga aspek tersebut.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1 Pengertian
Afektif, Kognitif, dan Psiomotorik
2.1.1
Afektif
adalah ranah yang berhubungan dengan sikap atau tingkah laku dan pengembanan
diri siswa dalam pembelajaran yang diberikan oleh guru.
2.1.2
Kognitif
adalah aspek yang berhubungan dengan tingkat kecerdasan peserta didik yang
telah dicapai selama pembelajaran berlangsung.
2.1.3
Psikomotor
adalah aspek yang menilai tentang perkembangan anak untuk mengubah dirinya
memerlukan bentuk kegiatan tertentu serta latihan-latihan yang diarahkan sesuai
dengan keberadaan dirinya sehingga terpenuhi kebutuhan psikologis, serta perasaan
dicintai oleh orang-orang disekitarnya.
2.2 Definisi
2.2.1
Kognitif
merupakan suatu tujuan untuk mengetahui beberapa banyak siswa yang telah
memahami dan tidak memahami materi yang telah diberikan.
2.2.2
Afektif
merupakan suatu penilaian diri bagi peserta didik dan bagi guru mampu memberi
cara berfikit metakognitif yang dapat berkembang terus menerus untuk melakukan
perbaikan mutu pendidikan.
2.2.3
Psikomotor
merupakan interaksi anak terhadap lingkungannya dihadapkan pada tiga dimensi
anak yanitu kemampuan (kapabilities) lingkungan tempat anak melakukan fungsi
kegiatan (enveronment) dan kebutuhan dengan berbagi tingkat keperluan
(finctioning dan support).
2.3 Landasan
terkait tentang Ranah Kognitif, Afektif, dan Psikomotor.
2.3.1
Dengan
semakin majunya perkembangan zaman dan perubahan kehidupan yang semakin modern,
tentu berpengaruh terhadap dunia pendidikan dan dibutuhkan evaluasi terhadap
bahan ajar di dunia pendidikan.
2.3.2
Pendidikan
merupakan hal yang pentig bagi manusia untuk hidup di masa sekarang dan masa
yang akan datang.
BAB III
PEMBAHASAN
A.
Kognitif
Dalam dunia pendidikan aspek
yang berhubungan dengan tingkat kecerdasan peserta didik yang telah dicapai
setelah pembelajaran yang diberikan oleh guru untuk mengetahui hal tersebut
seorang guru harus melakukan analisis yang bertujuan untuk mengetahui berapa
banyak siswa yang telah memahami dan tidak memahami materi yang telah
diberikan. Sehingga guru dapat dengan mudah memeberikan bimbingan khusus kepada
siswa yang belum memahami.
B.
Perkembangan aspek kognitif
Menurut Piaget (1970),
periode yang dimulai pada usia 12 tahun, yaitu yang lebih kurang sama dengan
usia SD / MI / SDLB / Paket A, merupakan Periode
Of Formal Operation. Pada usia ini, yang berkembang pada siswa adalah
kemampuan berfikir secara simbolis dan bisa memahami sesuatu secara bermakna (Meaningfully) tanpa memerlukan objek
yang kongkrit atau bahkan objek yang visual. Siswa telah memahami hal-hal yang
bersifat imajinatif.
Implikasinya dalam
pengajaran teknologi informasi dan Komunikasi adalah bahwa pelajar akan
bermakna kalau Input (materi pelajaran) sesuai dengan minat dan bakat siswa.
Pengajaran teknologi informasi dan komunikasi akan berhasil kalu penulis
silabus dan guru mampu menyesuaikan tingkat kesulitan dan variasi input dengan
harapan serta karakteristik siswa sehingga motivasi belajar mereka berada pada
tingkat maksimal.
Pada tahap perkembangan
ini juga berkembang ketujuh kecerdasan dalam Multiple intelligences yang dikemukakan oleh Gardner (1993), yaitu
:
1) Kecerdasan linguistik (kemampuan berbahasa yang
fungsional)
2) Kecerdasan logis- matematis (kemampuan berfikir
runtut)
3) Kecerdasan musical (kemampuan menangkap dan
menciptakan pola nada dan irama)
4) Kecerdasan spasial (kemapuan membentuk imaji
mental tentang realitas)
5) Kecerdasan kinestetik-ragawi (kemampuan
menghasilkan gerakan motorik yang halus)
6) Kecerdasan intra-pribadi (kemampuan untuk mengenal
diri sendiri dan mengembangkan rasa jati diri)
7) Kecerdasan antar pribadi ( kemampuan memahami
orang lain).
Ketujuh macam kecerdasan
ini berkembang pesat dan bila dapat dimanfaatkan oleh guru tekhnologi informasi
dan komunikasi, akan sangat membantu siswa dalam menguasai kemampuan
berteknologi informasi dan komunikasi.
Menurut pengertian bahasa
kata evaluasi berasal dari bahasa ingris Evaluation
yang berarti penilaian atau penafsiran (John M. Echols dan Hasan Shadily :
1983). Menurut Stufflebean, dkk (1971) mendefinisikan evaluasi sebagai ”the Proccess Of Delineating, Obtaining, and
Providing Useful Information For Judging Decision Alternatives“Artinya
evaluasi merupakan proses menggambarkan, memperoleh, dan menyajikan informasi
yang berguna untuk merumuskan suatu alternatif keputusan.
Evaluasi adalah peroses
penilaian yang sistematis mencakup pemberian nilai, atribut, apresiasi, dan
pengenalan permasalahan serta pemberian solusi-solusi atas permasalahan yang di
temukan. Evaluasi ini dilakukan tidak lain karena adanya suatu tindakan dalam
bentuk penelitian dan penilaian terhadap suatu proses yang terjadi secara tidak
efektif.
Cara-cara menganilis
kognitif antara lain :
1.
Melakukan
evaluasi dengan melaksanakan ujian harian atau test.
2.
Melakukan
umpan balik terhadap siswa.
3.
Melakukan
test interview.
Dalam penelitian kelompok kami lakukan ternyata masih ada
beberapa siswa yang tidak mengerti terhadap beberapa soal yang sama, maka dari
itu sekolah dan dewan guru serta wali kelas yang bersangkutan harus lebih
berkompetensi dan lebih baik dalam melaksanakan pembelajaran Seperti : lebih
banyak melakukan variasi dalm mengajar, metode-metode lebih efektrif dalam
menggunakan metode pembelajaran, sehingga guru tidak lebih monoton dan membuat
siswa lebih aktif dan giat dalam belajar. Karena dalam hal ini dituntut lebih
mamou untuk meberikan semua hal yang dibiutuhkan siswa agar mudah dipahami dan
di mengerti oleh siswa.
C.
Afektif
Afektif adalah ranah yang
berhubungan dengan sikap atau tingkahlaku dan pengembangan diri siswa dalam
pembelajaran yang diberikan oleh guru. Salah satu kegiatan penilaian yang dapat
membantu peserta didik dan guru untuk melihat dan mengetahui hasil belajar
siswa dan tugas mengajar guru didalam kelas adalah kegiatan penilaian diri
(self assesment atau self evalution). Penilaian diri bagi peserta didik dan
guru mampu memberi cara berfikiri metakognitif yan dapat berkembang terus
menerus untuk melakukan perbaikan mutu pendidikan. Oleh karena itu, informasi
tentang mutu pendidikan sangat diperlukan dalam kegiatan penilaian, evaluasi,
dan pelaporan pendidikan. Para ahli menyebutkan bahwa tujuan penilaian selalu
berpedoman pada empat hal yaitu : Menentukan arah, memeriksa, menemukan dan
menyimpulkan. Oleh karena itu mereka menyatakan bahwa terdapat tiga sikap
mental yang dapt digunakan dalam penilaian, yaitu : sikap rasa percaya, sikap lebih
tertarik dan sikap keyakinan dalam pembelajaran akan sukses. Pengaruh sikap
mental akan melahirkan kerangka kerja responsifbagi guru dalam mengajar dan
bagi peserta didik dalam belajar. Ciri penilaian diri termotivasi sendiri,
adanya komitmen sekolah, tersosialisasi dengan baik, berlangsung sinambung dan
transparansi.
1.
Konsep, dan
Kriteria penilaian diri konsep dasar.
Hakekat penilaian atau
evaluasi adalah upaya sistematik untuk mengumpulkan data dan mengelolah data
atau informasi yang handal dan shahih dalam rangka melakukan pertimbangan untuk
pengambilan kebijakan suatu program pendidikan. Penilaian diri di tingkat
kelas, selanjutnya disingkat PDK atau Classroom Self Assesment (CSA) adalah
penilaian yang dilakukan sendiri oleh guru atau peserta didik yang bersangkutan
untuk kepentingan pengelolaan kegiatan belajar mengajar atau KBM ditingkat
kelas. Penerapan konsep BDK adalah sejalan dengan penerapan Kurikulum Berbasis
Kompetensi (KBK) yang menerapkan penilaian berbasis kelas (BPBK) atau Classroom
Based Assesment (CBA). Hasil-hasil PDK merupakan masukan bagi guru di kelas dan
bagi pemimpin sekolah untuk meningkatkan kinerja semua staff dan guru disekolah
dan masa depan.
Konsep Dasar PDK Meliputi
:
a) Tujuan program pembelajaran, setiap mata pelajaran
yang harus dicapai oleh peserta didik berdasarkan kompetensi-kompetensi yang
ditetapkan oleh sekolah.
b) Standart keberhasilan yang harus dicapai oleh
peserta didik berdasarkan kriteria yang dijadikan rujukan. Standart yang
dimaksud adalah kesepakatan pernyataan walaupun hanya menggunakan pertimbangan
terhadap pencapaian kriteria.
c) Persyaratan ambang merupakan konsep yang perlu
dipahami dalam pengembangan standart yang dijadikan rujukan PDK sebagai batas
atau syarat minimal keberhasilan atau efektiftas suatu kinerja.
d) PDK sebagai penilaian Internal merupakan integral
dengan penilaian eksternal dimana penilaian eksternal diharapkan agar merujuk
pada hasil penilaian internal.
e) Model penilaian diri adalah suatu paradigma yang
banyak digunakan dalam penilaian program yang tentunya kelebihan dan
kekurangan.
f)
Pemanfaatan
hasil PDK akan sangat beragam dari satu assessor dengan assessor lain sehingga
setiap assessor dalam melakukan perbaikan mutu pengajaran dan pembelajaran
berbeda satu dengan yang lain.
2.
Ciri
penilaian diri
Ø Termotivasi sendiri :
Sekolah melihat PDK
sebagai upaya untuk mengenal kekuatan dan kekurangan diri. Karena guru dan
peserta didik mengenal kekuatan dan kelemahannya diperlukan usaha perencanaan
untuk melakukan perbaikan kelemahan pengajaran dan pembelajaran dimasa datang.
Ø Adanya Komitment kepala sekolah :
Bila PDK di persepsi
sebagai bagian dari perencanaan sekolah, maka pimpinan sekolah, staff da guru
serta peserta didik akan bersungguh-sungguh melaksanakan PDK.
Ø Tersosialisasi dengan baik :
PDK harus diyakini oleh
pengelola sekolah karena PDK menyangkut kinerja sekolah sehingga data yang
terkumpul diharapkan dapat diolah secara cermat dan hasilnya mampu melakukan
perbaikan PBM.
Ø Berlangsung Sinambung :
PDK disadari sebagai
menejemen sekolah yang berlangsung secara berkesinambungan dalam kerangka
pengelolaan PDM.
Ø Transparansi :
Hasil PDK dimungkinkan terjadi mekanisme cross
check data yang dikumpulkan. Transparansi dapat dicapai bila mana semua pihak
perlu mengenali diri sendiri sebelum merencanakan kegiatan dimasa datang.
3.
Kriteria
Penilaian Diri
Kriteria penilaian meliputi tiga aspek, yaitu :
a) Isi materi yang diajarkan.
b) Presentasi yang dipelajari.
c) Kerja sama diantara pemimpin sekolah, guru dan
peserta didik.
Dalam uji coba penelitian
yang kami lakukan masih ada kekurangan dalam ranah ini. Masih ada siswa yang
kurang begitu mengerti mengenai norma yang telah di ajarkan serta beberapa
materi yang terkait dengan ranah Kognitif. Maka dari itu sebuah terobosan yang
efektif seperti Bimbingan Konseling.
D.
Psikomotor
Psikomotor adalah aspek
menilai tentang perkembangan anak untuk mengubah dirinya memerlukan bentuk
kegiatan tertentu serta latihan-latihan yang diarahkan sesuai dengan keberadaan
dirinya sehingga terpenuhi kebutuhan psikologis, serta perasaan dicintai oleh
orang-orang disekitanya. Dalam perkembangan psikomotor anak, interaksi anak
terhadap lingkungannya dihadapkan ada tiga dimensi anak yaitu kemampuan
(Capanilities) lingkungan tempat anak melakukan fungsi kegiatan (environment)dan
kebutuhan dengan berbagai tingkat keperluan (functioning & Support).
Aspek ini dapat dilihat
setelah siswa itu lulus dan bisa juga dari masa sekolah. Aspek ini berhubungan
langsung dengan keterampilan atau bakat siswa yang bisa di eksplorasi.
Penelitian yang kami
lakukan dalam hal ini kurang begitu efektif, hal ini dikarenakan waktu yang
tidak mencukupi. Karena dalam melakukan penelitian di ranah psikomotor sangat
dibutuhkan ketelitian dan ketepatan dalam melakukan tes yang biasanya berupa
tes interview dan praktek. Menurut penelitian siswa kami sudah cukup baik, dan
masih banyak yang belum tereksplorasi oleh lembaga tersebut. Diperlukan sebuah
bimbingan khusus seperti ekstrakurikuler yang bisa mengeksplorasi bakat-bakat
yang masih terpendam dalam siswa tersebut.
Dalam ranah ini kami
melakukan tes interview karena menurut pengetahuan dan kesepakatan kelompok
kami mengenai Ranah Sigmental Refleks,
Intersegmental Refleks dan Supra Sigmental reflekstakut terjadi
ketidakjujuran terhadap jawaban yang diberikan oleh siswa, maka kami melakukan
Observasi langsung dengan mengadakan Praktek karaena hal ini berhbungan dengan
kemampuan Psikomotor siswa.
E.
Cara Melakukan Evaluasi Ranah Kognitif, Afektif,
dan Psikomotor
1. Evaluasi Domain Kognitif
Pedoman
ini merupakan petunjuk yang menjelaskan tentang batasan atau kata-kata kunci
untuk melakukan Penskoran terhadap soal bentuk uraian. Dan kriteria jawaban
yang digunakan untuk melakukan Penskoran pada soal bentuk uraian non objektif.
a. Contoh Soal Pemilihan Ganda.
Cara Penskoran bentuk ada
dua pilihan, yaitu Pertama tanpa ada
koreksi terhadap jawaban tebakan. Kedua dengan
koreksi jawaban.
b. Contoh Soal Uraian Objektif
Indikator : Peserta didik
dapat menghitung isi bangun ruang (balok) dan mengubah satuan ukurannya.
c. Contoh Soal Non Objektif
Peserta didik dapat
mendeskripsikan alasan warga negara Indonesia bangga menjadi bangsa Indonesia.
2. Evaluasi Domain Afektif
Sangat
sukar untuk mengukur atau menilai sikap dan kejiwaan seseorang. Karena itu yang
paling tradisional, evaluasi terhadap sikap dilakukan dengan pengamatan kepada
tindak tanduk peserta didik sesuai proses. Tetapi ini melakukan waktu yang
lama. Karena itulah dikembangkan instrumen-instrumen untuk mengukur sikap.
Beberapa instrumen yang banyak digunakan untuk
keperluan ini antara lain :
a. Kuesioner
Berupa isian / pilihan terhadap alternatif, alternatif sikap
tertentu. Dengan kuesioner bisa dketahui tingkat apresiasi seseorang terhadap
suatu nilai atau fenomena tertentu.
b. Skala Sikap
Skala sikap berupa suatu skala untuk menilai sikap seseorang
terhadap suatu nilai. Biasanya terdapat lima pilihan, yaitu setuju, sangat
setuju, tidak setuju, sangat tidak setuju dan ragu-ragu. Contoh skala sikap
adalah yang biasa didapat pada pelajaran PSPB disekolah.
c. Skala Penilaian (Rating Scale)
Instrumen ini mirip dengan skala sikap. Hanya saja sikap
situnjukkan dengan satuan-satuan. Misalnya dengan memberikan angka 0-10 sebagai
pertanda tingkat sikap, misalnya kesetujuan.
Pengukuran terhadap sikap ini bisa saja dilakukan oleh peserta langsung,
tetapi ada juga yang bisa dilakukan oleh guru atau pemandu setelah melakukan
observasi.
3. Evaluasi Domain Psikomotor
Evaluasi
terhadap kemampuan psikomotor juga sulit dilakukan dan sangat bervariasi. Untuk
mengukur refleks misalnya, dengan dicoba. Untuk mengukur kepandaian melempar
cakram, dengan observasi terhadap gerakan, dan ukuran terhadap jauh lemparan.
Jadi sangat berfariasi tergantung jenis motoriknya.
Tetapi apabila dijelajahi, terdapat beberapa yang
bisa dijadikan instrumen / metode yaitu :
a. Test Tindakan
Disini berarti dilakukan
uji terhadap kemampuan peserta secara langsung. Peserta diminta melakukan suatu
tindakan tertentu dan di nilai hasilnya.
b. Observasi
Untuk keterampilan dan komunikasi nonverbal, bisa juga
dilakukan dengan observasi. Peserta melakukan suatu tindakan, lalu guru /
pemandu mencatat dan memberikan nilai. Cara memberikan nilai bisa menggunakan
skala penilaian.
Hasil evaluasi bisa beragam, sesuai tujuan evaluasi. Bisa
berupa nilai, atau bisa saja hanya berupa keteranga-keterangan tentang keadaan
proses atau produk.
I.
Soal Kognitif
1.
Apa yang dimaksud dengan
tanggung jawab ?
2.
Mengapa di suatu negara harus
ada Hukum ?
3.
Apa yang dimaksud dengan Negara
?
4.
Sebutan Negara Kesatuan
Republik Indonesia (NKRI) di dasarkan pada ... UUD 1945.
5.
Menurut teori ketuhanan ,
terjadinya negara karena. ?
6.
Pengusul pemerintahan republik
dalam sidang BPUPKI adalah ?
7.
Nama lain sistem pemerintahan
kerajaan adalah ?
8.
Siapa presiden pertama negara
Indonesia.?
9.
Setiap bentuk negara memiliki
ciri khas berbeda. Ciri khas dari negara kesatuan adalah ?
10.
Apa yang menjadi Hukum dasar
yang tetap terjaga sapai saat ini di indonesia ?
Jawab
:
1.
Menerima dan Menanggung segala
apa yang telah kita perbuat.
2.
Agar sistem pemerintahan tetap
berjalan dengan baik dan memberi batasan bagi warga negara dalam bertindak dan
agar Negara tidak kacau.
3.
Alat yang di buat oleh
masyarakat bangsa, di beri kekuasaan untuk mengatur hubungan antar manusia atau
kelompok dalam suatu masyarakat bangsa,mengarahkan masyarakat secara bersama-sama
ke arah tercapainya tujuan dan cita-cita bersama.
4.
Pasal 1 ayat 1
5.
Adanya kekuasaan
6.
Mr. Susanto Tirtoprodjo
7.
Patria
8.
Ir. Soekarno
9.
Setiap provinsi memiliki
undang-undang dasar sendiri
10.
PANCASILA
II.
Soal Afektif
1.
Adat jawa lebih mengarah
pada . . . . . . . . . .dan . . . . . .
.antar masyarakat.
2.
Bagaimana sikap siswa yang baik
ketika berteman dengan siswa yang berbeda agama.?
3.
Di Sekolah siswa di tuntut
untuk bertingkahlaku . . . . . . . .dan . . . . . . . .pada semua warga
sekolah.
4.
Apa yang dilakukan Siswa /
Peserta didik yang baik ketika dia menemukan Dompet temannya yang tertinggal.?
5.
Apa yang dilakukan siswa yang
baik ketika dia merasa bersalah kepada temannya.?
6.
Siswa harus taat peraturan yang
di terapkan di sekolah. Penerapan tatatertib di sekolah yang harus ditaati oleh
setiap siswa di sekolah tersebut merupakan wujud dari. ?
7.
Beberapa remaja berusaha untuk tampil sama persis
dengan tokoh yang dikagumi. Dalam proses interaksi sosial tersebu sangat
dipengaruhi oleh faktor.?
8.
Sikap siswa yang baik ketika mengikuti
Upacara Bendera adalah.?
9.
Interaksi sosial yang dilakukan secara berulang – ulang
disebut .?
10.
Contoh kerjasama yang kaitannya
dengan kepentingan umum atau masyarakat misalnya. ?
Jawab
:
1.
Kesopanan dan Tata krama
2.
Saling Menghargai dan
Menghormati
3.
Disiplin dan Sopan
4.
Mengembalikan Dompet tersebut
tanpa mengambil apa yang ada dalam dompet tersebut.
5.
Meminta Maaf dan Berjanji tidak akan mengulangi kesalahan itu lagi.
6.
Coercion
7.
Identifikasi
8.
Mendengarkan,megikuti dan
Melaksanakan semua instruksi dalam pelaksanaan Upacara.
9.
Proses Sosial
10.
Ronda Malam
III.
Soal Psikomotor
Tentang
gerakan refleks
1.
Bagaimana refleks siswa ketika
melihat sahabatnya kecelakaan atau jatuh?
2.
Apa yang di lakukan siswa
ketika guru cara mengajarnya monoton atau membosankan?
3.
Apa yang di lakukan siswa ketika di suruh
menjelaskan di depan kelas tetapi siswa itu pemalu?
4.
Bagaimna respon siswa ketika di
berikan pertanyaan secara tiba-tiba?
5.
Bagaimana respon kita ketika
mata ke masukan debu?
6.
Apa yang kita lakukan ketika
tiba-tiba kita melihat jurang saat mengendarai sepeda motor?
7.
Bagaimana respon guru saat
murid tidak mendengarkan saat pelajaran berlangsung?
8.
Bagaimana respon siswa ketika
buku pelajaranya hilang?
9.
Apa yang di lakukan oleh guru
saat melihat siswa yang terlambat?
10.
Bagaimana respon siswa ketika
melihat guru yang membawa buku yang banyak?
JAWAB:
1.
Terkejut dan langsung berlari
menghampiri untuk menolong sahabatnya tersebut
2.
Malas dan Tidak semngat dalam
belajar
3.
Bingung dan gugup
4.
Terkejut tapi siswa langsung
menjawabnya
5.
Merasa perih dan berusaha
mengucek mata secara perlahan
6.
Menghindarinya
7.
Menghampiri siswa dengan Marah
dan menghukum siswa
8.
Bingung dan takut dimarahi oleh
guru
9.
Menasehati disertai hukuman
10.
Membantu dan membawakannya
BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Penelitian yang kami lakukan
hanyalah bersifat internal sehingga apabila ada kekeliruan dalam penelitian dan
penelitian makah ini harap dimaklumi, namun penelitian seperti ini harus
dilakukan karena sangat berdampak positif bagi lembaga maupun bagi kami
sendiri. Karena ketiga ranah tersebut sangatlah penting bagi keberhasilan dunia
pendidikan.
Penulis
menyadari bahwa dalam penulisan
Makalah ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, penulis mohon saran
dan kritiknya yang bersifat membangun untuk menyempurnakan Makalah ini dengan
harapan untuk memperbaiki kualitas Makalah.
Mudah-mudahan Makalah ini dapat berguna
khususnya bagi penulis dan umumnya bagi kita semua yang membacanya.
BAB
V
DAFTAR
PUSTAKA
Ø
Dr. Iskandar. Psikologi Pendidikan(Sebuah Orientasi Baru).
Cipayung-Ciputat: Gaung Persada. 2009
Ø
Mustaqim. Psikologi Pendidikan.
Yogyakarta : Pustaka Belajar. 2008
Ø
Nasution. Tekhnologi
Pendidikan. Jakarta ; Bumi Aksara. 2010
Ø
Sagala,Syaiful. Administrasi
Pendidikan Kontemporer. (Bandung: Alfabeta, 2005),h.63
Ø
Suharsimi, Arikunto.
Dasar-Dasar Evaluasi Dalam Pebdidikan. Jakarta: Bumi Aksara. 2008


Tidak ada komentar:
Posting Komentar