Indonesia sering dibilang lekat dengan budaya ketimurannya. Mulai dari
sopan santun, cara berpakaian, hingga beragam hiburan kerap dibingkai
dengan sudut pandang “Timur”. Tidak jarang dikotomi “Timur” dan
“Barat/Tidak Timur” jadi masalah. Tentu kamu akrab ‘kan dengan
perdebatan kostum renang Putri Indonesia di ajang Miss Universe yang
terjadi hampir setiap tahun,?
Pembedaan “Timur” dan “Barat” amat sering kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari. Pertanyaan utamanya, “Mengapa harus ada garis tegas yang memisahkan Timur dan Barat? Apakah kita yakin bahwa Indonesia memang se-Timur itu?”
Perjalanan Panjang Dikotomi Timur dan Barat !
Pembedaan antara Timur dan Barat sebenarnya sudah ada sejak zaman
Romawi Kuno, namun semakin berkembang di masa modern setelah adanya
studi postkolonialisme dan Orientalisme di abad ke-20. Dikotomi “Barat”
dan “Timur” bukan hanya diartikan sebagai letak geografis semata,
melainkan lebih kepada persaingan kekuatan besar dunia saat itu. Di
tengah perang yang makin memanas, Jepang dan Cina berusaha membentuk
kekuatan yang sanggup menandingi negara-negara Barat.
Sejak tahun 1920-an, Tachibana Sirakai, seorang sinologis dari
Jepang, menulis tentang pentingnya negara-negara Asia bergabung untuk
membentuk kekuatan “Timur Baru”. Kekuatan ini menyertakan seluruh negara
di Asia kecuali negara-negara di kawasan Asia Tengah dan Timur Tengah.
“This is a war between two worlds. The West Wind cannot prevail over
The East Wind; The East Wind is bound to prevail The West Wind.”
Sejak tahun 1940-an, kembalinya tren untuk membedakan yang Timur dan
yang Barat juga terjadi di negara-negara Barat. Paham Orientalisme jadi
pintu masuk bagi diterimanya dikotomi Timur-Barat di masyarakat Barat.
Edward Said dalam bukunya Orientalism menegaskan bahwa ada perbedaan di masyarakat Timur dan Barat.
Masyarakat Timur dijelaskan dengan masyarakat memegang nilai yang
menjunjung tinggi perasaan (sensibilitas), mengedepankan nilai
kekeluargaan, dan mengutamakan nilai tradisi. Sementara “Barat”
digambarkan sebagai masyarakat yang memegang nilai-nilai rasional,
materialistis, dinamis, dan individualis.
Perkembangan selanjutnya dari diskursi akademik ini bahkan menggabungkan unsur religius. Dalam The Clash of Civilizations, Samuel
Huntington berargumen bahwa benturan antara peradaban dunia bukan hanya
akan ada di antara masyarakat Timur dan Barat, namun juga Muslim dan
Non-Muslim.
Menilik Ulang Nilai-Nilai Ketimuran !
Ketika kita bisa dengan mudah mengatakan bahwa Indonesia memegang
erat adat ketimuran, sebenarnya apakah kita sudah cukup memahami makna
dari “adat ketimuran” tersebut? Mendefinisikan “adat ketimuran”
tentu tidak bisa dilepaskan dari Cina dan Jepang, dua negara yang
dikenal sebagai peletak dasar nilai-nilai ketimuran.
Marilah di kesempatan ini kita secara spesifik mengacu pada Jepang.
Bukan karena nilainya paling baik atau paling benar, melainkan karena
Jepang dengan rigid memberikan nama pada nilai-nilai yang dianutnya. Dengan cara ini akan lebih mudah bagi kita melakukan perbandingan.
Di bawah ini adalah beberapa nilai-nilai Timur yang kuat dipegang dalam masyarakat Jepang :
1. Uchi (in group) – Soto (outgrup)
Budaya Jepang dengan tegas membedakan jenis hubungan antar individu.
Ikatan darah, kedekatan personal dan situasi hubungan menentukan
bagaimana seseorang akan bersikap pada orang lain. Pembedaan ini
berpengaruh pada penggunaan gaya bahasa yang dipakai dan cara
penyelesaian konflik yang akan dipilih.
Jika konflik terjadi didalam uchi, konsesi akan dibuat
secara eksplisit. Permasalahan bisa dibicarakan dan dicari jalan
keluarnya secara terbuka. Namun jika konflik terjadi di luar lingkaran
terdekat, konflik akan diselesaikan secara implisit. Masalah tidak akan
dibicarakan dengan sangat terbuka.
Kesepakatan yang tercapai dalam konflik diluar lingkaran terdekat akan dicapai dan dijalankan dalam diam.
2. Honne (keinginan pribadi seseorang) – Tatemae (perilaku yang ditampilkan di depan publik)
Perilaku dan ekspresi juga secara tegas diatur oleh sistem nilai
ketimuran. Tidak semua hal bisa dibagi ke semua orang, tidak semua
perasaan layak ditampilkan dan diekspresikan. Perilaku di hadapan publik
tidak serta merta harus menunjukkan perasaan yang dialami.
Kunci dari pembedaan antara honne dan tatemae
adalah bagaimana perilaku selalu disesuaikan dengan ekspektasi yang
dimiliki oleh masyarakat. Seseorang akan selalu berusaha mengikuti
keinginan dan tuntutan yang diarahkan lingkungan sekitar padanya. Hanya
pada orang-orang terdekatlah keinginan dan hasrat diri layak dibagi.
Semisal, seorang pelajar sebenarnya sedang malas sekali pergi ke
sekolah. Di depan guru dan orang tua (yang tentu berharap dia tetap
rajin belajar) anak ini akan tetap terlihat semangat dan rajin. Barulah
saat bertemu teman baik dia bisa bercerita dan mengeluh kalau dia sedang
bosan belajar terus.
3. Wa (menciptakan harmoni dan menghindari konflik)
Dalam hubungan interpersonal dan di lingkungan kerja, sebuah
masyarakat yang menganut nilai ketimuran menjunjung tinggi terciptanya
harmoni. Sebisa mungkin konflik dan perbedaan pendapat akan dihindari.
Nilai ketimuran akan selalu memberikan ruang bagi penciptaan konsensus.
Wa tidak hanya berarti absennya konflik. Nilai ini juga
menggaris bawahi kepatuhan masing-masing individu dalam melaksanakan
kewajiban sosialnya. Dalam masyarakat yang meyakini bahwa harmoni harus
terus terpelihara, semua orang akan berusaha untuk terus menjalankan
peran mereka masing-masing.
Selama masing-masing individu melakukan perannya dengan baik, maka konflik akan semakin mudah dihindari.
4. Omotte (wajah yang ditampilkan di depan publik) – Ura (wajah yang hanya ditampilkan pada orang-orang terdekat)
Citra adalah hal yang penting dijaga dalam masyarakat yang erat
memegang nilai ketimuran. Tidak semua orang layak mengetahui apa yang
kamu rasakan dan kamu pikirkan. Citra didepan publik harus sesuai dengan
tuntutan dan harapan masyarakat. Sementara didepan orang-orang
terdekat, barulah penjagaan citra boleh sedikit dilonggarkan.
Semisal, seseorang sebenarnya memiliki sifat dasar yang sangat heboh
dan ekspresif. Tapi dia adalah seorang guru yang dituntut untuk tampil
tenang dan bersahaja. Didepan orang tua murid, orang ini akan tetap
berusaha tampil bijak dan tenang. Barulah dihadapan rekan-rekan
terdekatnya ia bisa mengeluarkan kepribadian aslinya.
5. Giri (kewajiban sosial yang harus ditaati) – Ninjo (emosi pribadi)
Dalam masyarakat yang menerapkan nilai ketimuran dengan kuat,
perbedaan dalam perilaku sangat ditentukan oleh kepada siapa orang
tersebut bertindak. Terdapat perjanjian tidak tertulis bahwa setiap
orang memiliki kewajiban sosial kepada orang lain. Contohnya saja,
seorang anak akan terus punya kewajiban sosial untuk merawat orang
tuanya hingga tua nanti.
Contoh lainnya adalah wanita yang sudah menikah. Meski tidak ada
aturan yang tertulis, akan wajar bagi seseorang untuk keluar dari
pekerjaan purna waktunya agar bisa fokus merawat keluarga. Kewajiban
sosial yang harus ditaati inilah yang disebut giri. Ketaatan terhadap giri akan menentukan penilaian masyarakat terhadap seseorang.
Sementara ninjo adalah emosi pribadi yang terpendam dalam
hati setiap manusia. Seorang anak bisa saja sebenarnya tidak ingin
merawat orang tuanya di rumah, jika boleh memilih, ia ingin memasukkan
mereka ke panti jompo saja. Tapi di masyarakat dengan nilai-nilai
ketimuran yang kuat, hal ini akan dianggap sangat kurang ajar. Giri akan tetap menjadi nilai yang lebih dijunjung dibandingkan ninjo. Seseorang dituntut mengalahkan emosi pribadi atau ninjo demi memenuhi kewajiban sosial yang disematkan padanya.
Meluapkan Emosi di Sosial Media, Pemimpin Bangsa Saling Melontarkan Cacian: Masih Timurkah Kita,?
Setelah mengetahui beberapa nilai dasar dari adat ketimuran diatas,
sekarang mari kita coba bandingkan dengan kondisi Indonesia dewasa ini.
Apakah kita masih layak disebut sebagai bangsa yang lekat dengan adat
ketimurannya? Masih pantaskah kita berang jika terjadi sesuatu yang
terlihat bertentangan dengan budaya kita, yang kerap kita labeli dengan “Barat“,?
Tidak perlu jauh-jauh, mari kita coba amati dari hal yang paling
mudah terjangkau oleh tangan: ponsel di genggaman. Perkembangan
teknologi dan maraknya penggunaan sosial media membuat kita kehilangan
nilai publik dan privat yang dijunjung tinggi dalam adat Timur.
Saat ini generasi muda sudah tidak lagi erat memegang nilai bahwa ada
beberapa hal yang tidak layak dibagikan ke publik. Celotehan di sosial
media semakin liar dan bebas. Berbagai masalah diungkapkan di ranah
publik, tanpa mempedulikan citra diri yang akan didapatkan.
Kita sudah makin terbiasa mengikuti kata hati dan keinginan pribadi.
Bukannya berusaha menaati kemauan dan harapan masyarakat yang dilekatkan
pada kita. Selama bisa melakukan apa yang paling diinginkan maka kita
cenderung tidak peduli terhadap kondisi sekitar.
Banyak dari kita berlindung dibalik dalih :
"Kita kan cuma meluapkan ekspresi saja, hanya ingin jadi diri sendiri.”
Dalam adat Timur, menjadi diri sendiri tidak serta merta membebaskan
seseorang dari kewajiban sosial. Ada masanya seseorang bisa bebas jadi
diri sendiri, ada masanya dia harus menyesuaikan diri dengan tuntutan
sosial di sekelilingnya.
Tidak hanya soal celoteh di sosial media dan ekspresi diri yang makin
tidak mengenal batas privat-publik. Bahkan perilaku pemimpin bangsa
kita dalam menghadapi konflik juga tidak lagi mencerminkan nilai-nilai
Timur. Contohnya saja dalam perang panas pemilihan presiden pada Juli
lalu. Baik masing-masing kandidat pun pendukungnya dengan enteng
melontarkan cacian dan fitnah ke pihak lawan di ranah publik.
Penilaian masyarakat, citra buruk yang bisa didapatkan saat tuduhan
yang ditujukan ternyata salah, hingga ekspektasi publik pada santunnya
perilaku petinggi bangsa sudah tidak lagi diindahkan. Asal menang, asal
bisa menjatuhkan — habis perkara. Padahal perebutan kursi tertinggi
kekuasaan negeri ini bisa dilakukan dengan lebih elegan.
Menjadi “Timur” Jauh Lebih Dalam Maknanya Dari Sekedar Menutup Perut Dan Dada !
Hampir setiap tahun kita ribut soal bikini Putri Indonesia di ajang Miss Universe.
Setiap ada artis yang mengenakan pakaian terbuka di luar negeri, kita
mengecamnya karena tidak sesuai dengan adat ke-Timur-an yang kita
yakini. Sebagai bangsa, kita sering lupa bahwa menjadi Timur bukan hanya
berarti menutup perut dan dada dari mata manusia lainnya.
Menjadi Timur adalah mengesampingkan keinginan pribadi demi memenuhi
ekspektasi masyarakat. Menjadi Timur adalah ketika seseorang berusaha
sebaik mungkin menjaga pembawaan diri agar tidak menjadi penyumbang
bibit konflik di lingkungannya. Sebuah masyarakat yang Timur akan terus
memenuhi kewajiban sosialnya. Bukannya saling acuh satu sama lain.
Apakah masyarakat kita yang kini sering menyelesaikan konflik dengan
cacian dan parang, yang bahkan tidak saling kenal dengan tetangga
sebelah, yang lebih memilih membayar tukang untuk bersih-bersih di acara
kerja bakti komplek masih layak disebut Timur?
Budaya Timur terlalu indah dan kaya untuk diambil hanya sepotong-sepotong saja.
Sekarang mana yang lebih tidak Timur : gambar diatas, atau perilaku kita sehari-hari,?
Semoga kita mau membuka mata dan memperluas sudut pandang kita.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar