Akhir-akhir ini di beberapa media massa sering kita membaca tentang perbuatan kriminalitas yang terjadi di negara yang kita cintai ini. Ada orang tua kandung yang tega meniduri anaknya sendiri, ada seorang anak yang meniduri ibu kandungnya sendiri, ada guru yang melakukan kekerasan dalam mendidik siswa-siswanya dan masih banyak lagi kriminalitas yang terjadi di negeri ini. Kerusakan moral sudah merebak diseluruh lapisan masyarakat, mulai dari anak-anak sampai orang dewasa serta orang yang sudah lanjut usia. Semua kalangan tidak mau disalahkan, pemerintah menyatakan diri telah berusaha memperbaiki dekadensi moral ini dengan berbagai program yang hanya tertulis dalam kertas-kertas, ulama’ menyatakan diri sama dengan pemerintah telah melakukan berbagai usaha untuk memperbaikinya, berbagai organisasi dan gerakan dideklarasikan tetapi hanya sebatas wacana belaka kenyataannya tetap saja moral ini tidak bisa diperbaiki.
Lantas jika semuanya merasa telah berbuat kenapa semua ini masih terjadi? Lantas siapa yang harus disalahkan? Apakah pemerintah yang memiliki kuasa yang bersalah? Atau para ulama’? saya rasa terlalu sempit pemikiran kita jika hanya menyalahkan pemerintah atau ulama’. Semua kita bertanggung jawab atas dekadensi moral yang terjadi di negeri ini, kita adalah orang yang bertanggung jawab atas musibah yang terjadi di negeri ini. Dalam tulisan sederhana ini saya mencoba mengajak pembaca untuk lebih menyorot masalah kenakalan ramaja yang terjadi di negeri ini. Ada banyak kriminalitas remaja yang sangat memiris hati. Baru-baru ini kita melihat di media adanya kekerasan yang dilakukan oleh pelajar putri terhadap teman sekolahnya, semua ini terjadi seolah-olah hal yang lumrah kita dengar, padahal hal ini merupakan kriminalitas yang menunjukkan ketidak berhasilannya pendidikan di Indonesia.
Jika kita
mencoba meneliti sejenak kita akan melihat ada banyak faktor yang
menyebabkan kenakalan remaja ini terjadi, setidaknya ada tiga faktor
yang mempengaruhi prilaku seorang remaja. Pertama, faktor lingkungan.
Lingkungan adalah faktor yang paling mempengaruhi prilaku dan watak
anak, jika dia hidup dan berkembang di lingkungan yang buruk maka
ahlaknyapun akan seperti itu adanya, sebaliknya jika dia berada di
lingkungan yang baik maka ia akan menjadi baik pula. Kedua, pendidikan
dan pembinaan dari orang tua. Orang tua adalah orang yang paling
bertanggung jawab dengan ahlak dan prilaku anaknya. Yahudi dan Nasrani
anaknya tergantung orang tuanya, pembinaan dari orang tua adalah faktor
yang terpenting dalam memperbaiki dan membentuk generasi yang baik.
Ketiga. Pemerintah dalam spesifiknya adalah lembaga pendidikan atau
sekolah, kenakalan remaja ini sering terjadi ketika anak berada di
sekolah dan jam pelajaran kosong, belum lama ini bahkan kita telah
melihat dimedia adanya kekerasan antar pelajar yang terjadi di
sekolahnya sendiri.
Dari berbagai faktor dan permasalahan yang
terjadi di kalangan remaja masa kini sebagaimana telah disebutkan di
atas, maka tentunya ada beberapa solusi yang saya tawarkan dalam
pembinaan dan perbaikan remaja masa kini.
Pertama, membentuk
lingkungan yang baik. Sebagaimana di sebutkan di atas lingkungan
merupakan faktor terpenting yang mempengaruhi prilaku manusia, maka
untuk menciptakan generasi yang baik kita harus menciptakan lingkungan
yang baik dengan cara lebih banyak berkumpul dan bergaul dengan
orang-orang yang shaleh, memilih teman yang dekat dengan sang khaliq dan
masih banyak cara lain yang bisa kita lakukan. Jika hal ini mampu kita
lakukan, maka peluang bagi remaja untuk melakukan ha negatif akan
sedikit berkurang.
Kedua, pembinaan dalam keluarga. Sebagaimana
disebut diatas bahwa keluarga juga punya andil dalam membentuk pribadi
seorang anak. Jadi untuk memulai perbaikan, maka kita harus mulai dari
diri sendiri dan keluarga. Keluarga adalah sekolah pertama bagi anak.
Mulailah perbaikan dari sikap yang paling kecil, seperti selalu berkat
jujur meski dalam dalam gurauanpun jangan sampai kata-kata bohong,
membaca doa setiap melakukan hal-hal kecil, memberikan bimbingan agama
yang baik kepada keluarga dan masih banyak yang bisa kita lakukan,
memang tidak mudah melakukan dan membentuk keluarga yang baik, akan
tetapi kita bisa lakukan hal itu dengan perlahan dan sabar, jika sabar
dan yakin maka semuanya akan sangat bermakna dan memberikan manfaat bagi
perbaikan generasi muda.
Ketiga, sekolah. Sekolah adalah lembaga
pendidikan formal yang memiliki pengaruh kuat terhadap perkembangan
remaja, diantaranya melakukan program mentoring pembinaan remaja lewat
kegiatan keagamaan seperti rohis, sispala, patroli keamanan sekolah dan
lain sebagainya. Jika kita optimalisasikan komponen organisasi ini maka
kemungkinan terjadinya kenakalan remaja ini akan semakin berkurang dan
teratasi.
Masih banyak hal lain yang dapat yang kita lakukan dalam
memperbaiki kenakalan yang terjadi saat ini. Semuanya adalah tanggung
jawab kita, orang bijak tidak menyalahkan keadaan tetapi mencari solusi
untuk menghadapi kenyataan. Marilah kita sama-sama bekerja untuk
memprbaiki masa depan generasi kita, karena hitam dan putih bangsa ini
ada di tangan mereka semua.
Jika kita tidak memulai dari sekarang dan
dari kita sendiri, maka siapa lagi yang akan memulai dan
memperbaikinya. Tidak ada lagi kata untuk saling menyalahkan. Untuk
memulai perbaikan ini butuh keseriusan semua pihak. Marilah kita
sama-sama serius untuk memperbaiki masa depan bangsa ini. Mimpi hari ini
adalah kenyataan hari esok. Marilah kita mulai tidak hanya dengan mimpi
tetapi dengan usaha yang nyata.
Ya, ternyata karakter remaja dan
ujung-ujungnya berbagai kasus kenakalan pun tak jauh-jauh dari
globalisasi, terutama di bidang teknologi, serta westernisasi (budaya
kebarat-baratan). Belum lama ini, seperti yang dikoar-koarkan oleh
berbagai media, kasus smack down yang sempat mencapai rating tinggi
dalam tanyangan televisi di Indonesia telah mengambil posisi tersendiri
di kalangan anak/ remaja. Mereka dengan serta merta mempraktekkan adegan
semacam itu yang pada akhirnya menjadikan suatu bentuk kriminalitas
remaja.
Selain itu, berbagai adegan pornografi di televisi mulai dari
kasus ringan sampai berarpun telah menjadi bentuk pendidikan
nilai-nilai yang tidak sepantasnya dilakukan oleh remaja. Mereka
sebenarnya membutuhkan asupan gizi semisal serupa tontonan yang mendidik
yang mencerminkan insan cendikia, intelek, atau akademis, telah
diracuni dengan berbagai adegan pacaran bahkan bentuk kegiatan seksual
yang lebih jauh/parah. Didikan semacam itu rupanya sangat ampuh untuk
membangun kareakter tempe setiap anak/remaja.
Remaja semacam itu yang
oleh Kartini Kartono (1988:93) disebut sebagai anak cacat sosial atau
cacat mental sebenarnya sudah mengalami demoralisasi atau kemerosotan
gradasi moral. Selain karena kondisi sosial di atas, kondisi keluarga
pun sangat menentukan, terutama proses pendidikan dari orang tua sebagai
upaya pembentukan karakter (character building) anak.
Semoga Bermanfaat

Tidak ada komentar:
Posting Komentar